Literasi Keuangan Sekolah: 5 Cara Penting Agar Anak Cerdas
Bayangkan jika sejak bangku sekolah, anak-anak sudah diajarkan cara mengatur uang jajan, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga mengenal konsep menabung dengan benar. Itulah semangat di balik program literasi keuangan sekolah yang baru saja diluncurkan secara resmi di Indonesia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah resmi menyediakan bahan ajar literasi finansial gratis untuk sekolah. Bagi orang tua yang peduli masa depan finansial anak, ini kabar baik yang layak dipahami lebih dalam.
Apa Itu Program Literasi Keuangan Sekolah Ini
Program ini diumumkan dalam ajang Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2026, hasil kerja sama OJK dan Kemendikdasmen. Materi ajar disusun bersama para ahli, lalu disebarluaskan lewat platform “Rumah Pendidikan” milik pemerintah (sumber: ANTARA News).
Materinya dirancang menyatu dengan mata pelajaran inti seperti matematika dan ekonomi, sekaligus bisa dipakai dalam kegiatan ekstrakurikuler. Artinya, edukasi finansial tidak lagi jadi topik tambahan, melainkan bagian dari proses belajar sehari-hari.
Kenapa Program Ini Penting bagi Generasi Muda
Data menunjukkan tingkat literasi keuangan pelajar di Indonesia masih tertinggal, yakni sekitar 62,72%, dibandingkan rata-rata nasional 69,57%. Kesenjangan ini jadi alasan kuat kenapa intervensi sejak usia sekolah dianggap mendesak.
Anak-anak yang paham dasar keuangan sejak dini cenderung lebih siap menghadapi keputusan finansial yang lebih kompleks saat dewasa, mulai dari mengatur gaji pertama hingga memilih instrumen investasi yang tepat.
Peran Orang Tua di Luar Kurikulum Sekolah
Meski kurikulum sudah tersedia, peran orang tua tetap tidak tergantikan. Sekolah bisa memberi teori, tetapi kebiasaan finansial biasanya terbentuk dari contoh nyata di rumah.
Orang tua bisa memperkuat pelajaran di sekolah dengan praktik sederhana, misalnya mengajak anak menabung secara rutin atau mengenalkan konsep aset sejak dini, seperti dibahas dalam mengajarkan anak menabung emas melalui konsep Public Gold.
Konsistensi jauh lebih penting dibanding jumlah uang yang ditabung. Anak yang terbiasa menyisihkan sedikit uang jajan setiap minggu akan lebih mudah memahami konsep menunda kesenangan demi tujuan yang lebih besar di kemudian hari, sebuah pelajaran hidup yang tidak selalu diajarkan lewat teori di kelas.
Manfaat Literasi Keuangan Sekolah bagi Keluarga
Program literasi keuangan sekolah ini sebenarnya tidak hanya menguntungkan anak, tapi juga keluarga secara keseluruhan. Ketika anak memahami konsep uang sejak dini, komunikasi finansial di rumah pun jadi lebih terbuka.
Anak yang terbiasa diajarkan menabung dan merencanakan keuangan sederhana akan lebih mudah diajak berdiskusi soal tujuan finansial keluarga, termasuk kebiasaan menabung jangka panjang seperti emas.
Diskusi keuangan yang terbuka sejak dini juga membantu mengurangi kesalahpahaman soal uang saat anak beranjak dewasa. Banyak masalah finansial di usia produktif sebenarnya berakar dari minimnya edukasi dan komunikasi soal uang sejak kecil, bukan semata-mata karena penghasilan yang kurang.
Contoh Sederhana Penerapan di Rumah
Sebagai langkah awal, orang tua bisa memberi anak “pos-pos” uang jajan sederhana: sebagian untuk jajan, sebagian untuk ditabung. Kebiasaan kecil ini bisa dikembangkan lebih jauh saat anak mulai memahami konsep menabung dalam bentuk aset seperti emas.
Menyiapkan Fondasi Finansial Anak Sejak Dini
Kurikulum resmi memang penting, tetapi konsistensi penerapan di rumah yang akan menentukan hasil jangka panjang. Semakin awal anak mengenal konsep menabung dan investasi, semakin besar peluang mereka membangun kebiasaan finansial yang sehat saat dewasa.
Bagi keluarga yang ingin mulai membangun kebiasaan menabung jangka panjang bersama anak, memahami pentingnya belajar investasi sejak dini bisa jadi titik awal yang baik sebelum mengenalkan instrumen yang lebih konkret seperti tabungan emas.
Kesimpulan
Kehadiran program literasi keuangan sekolah dari OJK dan Kemendikdasmen menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan pemahaman finansial sejak usia dini. Namun, kurikulum saja tidak cukup tanpa dukungan kebiasaan nyata di rumah.
Sebagai orang tua, Anda bisa melengkapi pelajaran di sekolah dengan praktik sederhana di rumah, termasuk mengenalkan konsep menabung emas sebagai salah satu cara membangun fondasi finansial anak sejak dini.